Saturday, 16 December 2017 - Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu libur
Alhamdulillah, sampai saat ini kami sudah mengirim lebih dari 10.000 paket ke berbagai kota di Indonesia dan ke beberapa Negara, dan masih terus bertambah InsyaAllah. *Update Agustus 2016.
Home » Blog » Menyelami Makna اَلشَّكُوْرُ
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

Menyelami Makna اَلشَّكُوْرُ

13 November , 2014 , Category : Blog

Menyelami Makna Assyakur

Allah –Subahanahu wa Ta’ala- memperkenalkan diri-Nya dengan nama asy-Syakur merupakan bentuk shighot mubalaghoh  (superlatif) yang berarti banyak bersyukur.

Asy-Syakur adalah yang mengsyukuri (baca: berterima kasih) ketika hanya dipatuhi sedikit saja, yang memberi kenikmatan yang banyak, dan yang menerima balasan terima kasih yang sedikit.

Bukti dari bersyukurnya Allah –Subahanahu wa Ta’ala- adalah Dia menerima amalan hamba, memberi pahala orang yang melaksanakan haji, umroh, dan sa’i antara Shofa dan Marwah, dan bersyukur kepada orang yang banyak melakukan ibadah sunah.

“Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitulloh atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”  (QS. al-Baqoroh [2]: 158).

Di tempat lain juga menegaskan,

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui.”  (QS. an-Nisa [4]: 147).

Artinya, Allah –Subahanahu wa Ta’ala- berterima kasih atas amal ketaatan yang diridhoi Allah, yang kalian lakukan.

Di hari kiamat kelak, ketika memasukkan orang-orang mukmin ke dalam surga Adn, Allah –Subahanahu wa Ta’ala- memberi mereka gelang dari emas dan permata, memakaikan pakaian sutera, dan mengeraskan suara mereka memuji-Nya dan menyatakan bahwa Dia Maha Mengampuni dan Maha Mengsyukuri.

“(bagi mereka) surga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan Kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir [35]: 33-34).

Semua yang disyukuri Allah  adalah amalan dan perkataan yang dilakukan dengan ikhlas. Nabi –Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- pernah bercerita tentang dua orang yang melakukan amalan yang diridhoi Allah –Subahanahu wa Ta’ala-, kemudian Allah –Subahanahu wa Ta’ala- mensyukurinya mengampuni keduanya.

Dari Abu Huroiroh –Radhiyallahu ‘anhu-: “Ketika sedang berjalan, tiba-tiba seseorang merasa sangat haus. Ia berhenti di sebuah sumur, lalu minum dari sumur tersebut. Ketika keluar sumur, ia melihat seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya kehausan sambil menjilat-jilat tanah yang basah. Kata orang tersebut (di dalam hati), (anjing) ini sedang merasakan apa yang tadi aku rasakan. Kemudian ia (masuk lagi ke sumur dan) memenuhi khuffnya (sepatu dari kulit) dengan air, dipeganginya kedua mulut khuffnya dan memanjat naik. Selanjutnya, ia memberi minum anjing itu. Allah –Subahanahu wa Ta’ala- bersyukur kepadanya dan mengampuninya (lantaran belas kasihnya).” (HR. Bukhori dan Muslim).

Masih dari Abu Huroiroh –Radhiyallahu ‘anhu-, Nabi –Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- bersabda: “Ketika berjalan, seseorang menemukan duri di jalan, lalu menyingkirkannya. Dan Allah pun bersyukur dan mengampuni orang tersebut.”  (HR. Bukhori dan Muslim).

Ibnu Qoyyim -Rahimahullah- berkata di sela-sela penjabaran seputar makna kata tersebut dan penjelasan makna-maknanya yang agung serta kandungan-kandungannya yang mulia, adapun bersyukurnya Robb –Subahanahu wa Ta’ala-, maka itu adalah sesuatu yang lain. Dia paling berhak dengan sifat syukur dari setiap hamba yang paling banyak bersyukur. Bahkan sebenarnya justru Dia-lah yang Maha Banyak Bersyukur. Sebab, Dia melimpahkan pemberian kepada hamba dan memberikan taufik kepadanya agar dapat bersyukur kepada-Nya. Dia bersyukur dari amalan dan pemberian yang sedikit. Oleh karena itu, rasa sifat syukur tersebut tidak bisa lepas dari-Nya. Dia mensyukuri satu kebaikan dengan melipatgandakannya menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya hingga menjadi berkali-kali lipat lebih banyak lagi.

Dia bersyukur kepada hamba-Nya dengan ucapan, yaitu menyanjungnya di tengah-tengah para malaikat dan di hadapan makhluk lainnya di langit, dan Dia menyampaikan rasa syukur kepadanya di hadapan para hamba-Nya. Dia juga bersyukur dengan perbuatan, yakni apabila hamba itu meninggalkan sesuatu karena-Nya, maka Dia akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari sebelumnya. Apabila ia mengerjakan sesuatu karena-Nya, maka Dia membalasnya hingga berkali-kali lipat.

Dia-lah yang memberinya taufik untuk meninggalkan atau mengerjakan, serta untuk ia bersyukur atas ini atau itu. Ketika para sahabat meninggalakan rumah-rumah mereka dan keluar meninggalkannya demi mendapatkan keridhoan-Nya. Maka Dia menggantikan semua itu dengan diberikannya mereka kekuasaan di dunia dan Dia menaklukkan dunia ini untuk mereka. Tatkala Yusuf –‘Alaihissalam- sabar menanggung sempitnya penjara, maka Dia bersyukur kepadanya dengan memberikan kemenangan baginya di muka bumi ini, ia bisa tinggal di mana saja dari tempat yang ia kehendaki. Tatkala para syuhada (orang-orang yang mati syahid) menyerahkan tubuh-tubuh mereka kepada-Nya hingga para musuh mengoyak-koyaknya, maka Dia bersyukur kepada mereka atas hal itu, yaitu Dia menggantikan tubuh-tubuh itu menjadi burung hijau sebagai tempat tinggal bagi ruh-ruh mereka, mereka mendatangi sungai-sungai surga dan makan sebagian buah-buahnya sampai hari kebangkitan.

Lalu Dia mengembalikannya kepada mereka dalam rupa sesempurna apa yang ada, seindah, dan seelok mungkin. Tatkala para rosul-Nya menyerahkan segala harta benda kepada-Nya untuk memerangi musuh-musuh mereka, hingga musuh-musuh mereka mampu mengalahkan dan mencela habis mereka, maka Dia menggantikan bagi mereka bahwa Dia dan para malaikat-Nya ikut menyolati mereka, dan menjadikan bagi mereka seharum-harumnya sanjungan di langit dan di tengah-tengah makhluk-Nya. Kemudian Dia menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.

Diantara rasa syukur-Nya adalah bahwasanya Dia memberikan ampunan bagi wanita tuna susila lantaran telah memberi minum seekor anjing, yang karena begitu kehausannya anjing itu menjilati tanah. Dia mengampuni bagi yang lainya lantaran telah menyingkirkan duri kayu dari jalan kaum muslimin.

Tatkala Allah –Subahanahu wa Ta’ala- benar-benar Maha Mensyukuri, maka makhluk yang paling Dia cintai adalah yang tersifati dengan sifat syukur, sebagaimana makhluk yang Dia benci adalah yang kosong dari sifat tersebut dan bahkan tersifati dengan lawannya. Hal ini adalah konsekuensi dari asma’ul husna. Makhluk yang paling Dia cintai adalah yang tersifati dengan apa-apa yang mengharuskannya untuk mencintai asma’ul husna dan makhluk yang paling Dia benci adalah yang tersifati dengan sifat kebalikannya. Oleh karena itu, Dia membenci orang yang begitu kufur, dzolim, jahil, keras hatinya, bakhil, pengecut, hina, dan buruk akhlaknya. Sedangkan Dia –Subahanahu wa Ta’ala- adalah Maha Indah lagi mencintai keindahan, Maha Tahu lagi mencintai orang yang berilmu, maha penyayang lagi mencintai hamba-hamba-Nya yang penyayang, Maha Baik lagi mencintai mereka yang berbuat kebaikan, Maha Mensyukuri lagi Mencintai hamba-hamba-Nya yang bersyukur, Maha Sabar lagi mencintai mereka yang penyabar, Maha Dermawan lagi Mencintai orang-orang yang dermawan.

Pada ayat-ayat yang telah lewat, digabungkan dua sifat yaitu Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri. Dia –Subahanahu wa Ta’ala- Maha Mengampuni dosa-dosa semuanya sebesar apapun dosa itu, tidak ada dosa yang agung, kecuali pasti Dia maafkan. Dia Maha Mensyukuri semua amalan meskipun hanya sedikit, walaupun hanya sebesar dzarroh. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim berputus asa dari ampunan Allah –Subahanahu wa Ta’ala- lantaran dosa-dosanya meskipun begitu banyak. Sebagaimana ia tidak boleh meremehkan sedikit pun dari amalan kebajikan meskipun hanya sedikit. Karena sesungguhnya Robb –Subahanahu wa Ta’ala- maha pengampun lagi maha mensyukuri.

WAllahu ta’ala a’lam…

 

Agar Mudah Shalat Malam

31 January , 2015 , Kategori : Blog
Agar Mudah Shalat Malam

Di antara tanda-tanda meningkatnya iman seseorang adalah hatinya selalu cenderung untuk melakukan ketaatan kepada Allah .Upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah  adalah dengan berusaha melakukan amal ibadah yang sangat dicintai dan diridhoi-Nya.Di antara amalan-amalan yang paling dicintai, diridhoi, dan... baca selengkapnya

Balasan Bagi Mereka Yang Jujur

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Balasan Bagi Mereka Yang Jujur

Islam merupakan agama yang sempurna bagi umat manusia. Salah satu kesempurnaan ajaran Islam adalah perintah berlaku jujur dalam ucapan dan perbuatan. Dengan kejujuran, manusia menjadi penuh kemuliaan. Jujur memang sebuah perkara yang membutuhkan keberanian dari pelakunya. Dikarenakan jujur terkadang... baca selengkapnya

Agar Berbicara Bernilai Pahala

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Agar Berbicara Bernilai Pahala

Berbicara merupakan karunia Alloh  yang sangat luar biasa kepada para hamba-Nya. Ada sebagian manusia terlahir di dunia ini dalam kondisi bisu dan merindukan bicara walau sepatah kata. Namun bagi banyak orang, berbicara seringkali menjadi sumber petaka karena lisannya tidak... baca selengkapnya

Do’a Memohon Selalu Dalam Kebenaran

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Do’a Memohon Selalu Dalam Kebenaran

رَبِّأَدْخِلْنِيمُدْخَلَصِدْقٍوَأَخْرِجْنِيمُخْرَجَصِدْقٍوَاجْعَلْلِيمِنْلَدُنْكَسُلْطَانًانَصِيرًا “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)”. (QS. al-Isra : 80) Dalam ayat ini, Allah -subahanahu wa ta’ala-... baca selengkapnya

Membangun Tradisi Kejujuran

15 January , 2015 , Kategori : Blog
Membangun Tradisi Kejujuran

As-Shidq adalah mengatakan atau melakukan kebenaran. As-Shidq diartikan pula perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan kebenaran. Imam Nawawi -Rahimahullah- mengartikan as-shidq yaitu mengabarkan sesuatu yang sesuai dengan realitanya.Karena itu, as-shidq sering diartikan dengan kejujuran. Kejujuran bisa dibilang adalah harta... baca selengkapnya

  • belanjamahal
    @Ina_Rosma_ariana :Sama-sama. Semoga semua buku yang Anda beli bisa bermanfaat bagi Anda, keluarga serta orang »
  • Ina Rosma Ariana
    Paket bukunya sudah diterima semua,,, terima kasih banyak,,, pelayanannya memuaskan & cepat. Maaf bngt bar »
  • belanjamahal
    @ Andi Muhammad Cakra D... Alhamdulillah.... Semoga Buku & al-Qur'an nya bisa bermanfaat dunia dan Akhirat.... »
  • Andi Muhammad Cakra D.
    Asslamualaikum wr. wb. baru OL susah jaringan di BOMBANA sulawesi tenggara, tp alhamdulillah kiriman buku dan »
  • belanjamahal
    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh... Alhamdulillah.. Kami turut bahagia, semoga alqur'an dan bukuny »

Buku Pilihan

Pilih Kategori

Arsip

Statistik Web

Flag Counter

Trafik

0001879584
  • Hari ini:1127
  • Minggu ini:5795
  • Bulan ini:9155
  • Total1879584
Users Online: 2
Kurma Premium

Produk Herbal