Saturday, 16 December 2017 - Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu libur
Alhamdulillah, sampai saat ini kami sudah mengirim lebih dari 10.000 paket ke berbagai kota di Indonesia dan ke beberapa Negara, dan masih terus bertambah InsyaAllah. *Update Agustus 2016.
Home » Blog » Dimanakah Hamba-Ku yang Bersyukur?
Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
Jumlah Nama Barang Total
0 Rp 0,00
keranjang anda kosong

* Klik tombol di bawah ini untuk menyelesaikan pemesanan.

Dimanakah Hamba-Ku yang Bersyukur?

22 November , 2014 , Category : Blog

Dimanakah Hamba-Ku yang Bersyukur

Jika kita merenungkan sejenak terhadap nikmat yang Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berikan kepada kita semua. Maka akan banyak sekali nikmat yang Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berikan, bahkan sedemikian banyaknya nikmat yang dicurahkan, tidak ada di antara kita seorangpun yang mampu untuk menghitungnya satu persatu, walaupun dengan menggunakan alat hitung atau kalkuator yang paling tercanggih dan mutakhir. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- telah menegaskan hal ini di dalam dua tempat di dalam al-Qur’an, yaitu:

“Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dan segala apa yang kalian mohonkan kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim [14]: 34).

“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nahl [16]: 18).

Firman Allah –Subhanahu wa Ta’ala- di atas sangatlah beralasan jika kita mau jujur mau mengakui kuantitas nikmat yang tak terhingga tersebut, dengan realita nikmat-nimat yang ada pada diri kita. Karena sesungguhnya Allah l mencurahkan nikmat-Nya kepada kita semua dari berbagai sisi, dari arah depan, belakang, atas, bawah, samping kanan dan samping kiri. Begitu juga mulai dari anggota badan yang nampak oleh kita sampai yang tidak nampak oleh kita yang mungkin jumlahnya triliyunan. Belum lagi nikmat eksternal yang erat dengan kebahagiaan dan kenikmatan kita, seperti yang ada pada istri, anak, saudara dan kerabat-kerabat kita dan masih banyak lagi perkara-perkara lainnya yang merupakan bagian dari pada nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kita.

Sedikit Sekali Orang yang Bersyukur

Para Pembaca yang dirahmati Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, walaupun banyak sekali nikmat Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang diberikan kepada umat manusia, hal ini tidak lantas menjadikan umat manusia secara mayoritas menjadi hamba-hamba Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala- atas nikmat-nikmat tersebut. Justru sebaliknya, mayoritas di antara manusia tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah –Subhanahu wa Ta’ala- tersebut. Sedangkan yang bersyukur jumlahnya hanyalah sedikit sekali. Apalagi dewasa ini, harus diakui bahwa ruang kehidupan kita telah didominasi oleh orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Sehingga Anda dan kita semua yang mudah-mudahan dicatat sebagai hamba Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang bersyukur merasakan ekses negatif akibat ulah orang-orang yang tidak bersyukur tersebut.

Kadang-kadang kita bertanya, mengapa dunia ini didominasi oleh orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, padahal mereka sudah begitu banyak mendapatkan nikmat dari Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Logika manapun, bahkan logika sekuler dan barat sekalipun pasti akan menganjurkan orang yang telah diberi sesuatu untuk berterimakasih kepada orang yang memberinya. Akan tetapi logika ini tidak begitu mudah berlaku ketika dihadapkan kepada masalah bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Lalu ada apa gerangan dan mengapa sebabnya?.

Tiga Sebab Banyaknya Manusia Tidak Bersyukur

Banyaknya manusia yang tidak bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, yang tercermin dalam perbuatan kesyirikan atau kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan, tentu memiliki sebab-sebabnya. Di antaranya:

Pertama adalah minim atau tidak memiliki ilmu syar’i. Terjadinya kesyirikan dan kemaksiatan yang merupakan manifestasi dari hamba-hamba yang tidak bersyukur kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala- adalah salah satunya karena mereka jauh dari ilmu syar’i. Sebaliknya ketaatan yang muncul sebagai manifestasi hamba yang bersyukur tidak lain bertolak dari kapasitas ilmu syar’i yang dimilikinya. Semakin tinggi kapasitasnya maka semakin tinggi pula peluang untuk menjadi hamba Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang bersyukur. Maka tak heran jika Nabi Muhammad adalah sebagai hamba Allah –Subhanahu wa Ta’ala- yang paling bersyukur di dunia ini. Ketika ditanya: mengapa beliau begitu rajin sholat malam, padahal sudah diampuni dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang? Beliaupun menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Aku hanya ingin menjadi hamba yang selalu bersyukur.”  (HR. Bukhori)

Kedua adalah peran aktif iblis dan setan. Sudah menjadi kewajiban yang asasi bagi iblis dan setan untuk menjegal umat manusia dari jalan yang lurus. Termasuk dalam hal ini menjegal umat manusia untuk menjadi orang-orang yang bersyukur. Hal ini sebagaimana yang Allah –Subhanahu wa Ta’ala- kisahkan dalam al-Qur’an:

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(QS. al-A’raf [7]: 17).

Ketiga adalah skenario Allah –Subhanahu wa Ta’ala-. Artinya Allah –Subhanahu wa Ta’ala- telah menetapkan bahwa hamba-hamba-Nya yang bersyukur itu jumlahnya sangat sedikit. Sebaliknya mayoritas mereka adalah hamba-hamba-Nya yang tidak bersyukur. Allah –Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

“Dan sedikitsekalidarihamba-hambaKu yang berterimakasih.(QS. Saba [34]: 13).

Oleh karena itu, sudah menjadi keyakinan bagi kita umat Islam khususnya, bahwa fenomena minimnya orang-orang yang bersyukur dan banyaknya orang-orang yang tidak bersyukur adalah ketetapan ilahi yang tidak terbantahkan. Tinggal bagaimana kita semua berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi bagian yang sedikit tersebut. Tidak lain dengan merealisasikan tiga rukun bersyukur yaitu secara batin kita mengakui nikmat-nikmat tersebut, secara zahir kita juga menyebut-nyebutnya dan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah l semata. (Ahmad Farid, al-Bahr al-Raiq Fi al-Zuhd wa al-Raqaiq, Maktabah Sohabah, hlm. 214)

Semoga Allah –Subhanahu wa Ta’ala- menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sehingga dikumpulkan di surga-Nya bersama dengan penghulunya orang-orang yang bersyukur yaitu Nabi Muhammad `. Amin, wAllahu ta’ala a’lam…

Agar Mudah Shalat Malam

31 January , 2015 , Kategori : Blog
Agar Mudah Shalat Malam

Di antara tanda-tanda meningkatnya iman seseorang adalah hatinya selalu cenderung untuk melakukan ketaatan kepada Allah .Upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah  adalah dengan berusaha melakukan amal ibadah yang sangat dicintai dan diridhoi-Nya.Di antara amalan-amalan yang paling dicintai, diridhoi, dan... baca selengkapnya

Balasan Bagi Mereka Yang Jujur

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Balasan Bagi Mereka Yang Jujur

Islam merupakan agama yang sempurna bagi umat manusia. Salah satu kesempurnaan ajaran Islam adalah perintah berlaku jujur dalam ucapan dan perbuatan. Dengan kejujuran, manusia menjadi penuh kemuliaan. Jujur memang sebuah perkara yang membutuhkan keberanian dari pelakunya. Dikarenakan jujur terkadang... baca selengkapnya

Agar Berbicara Bernilai Pahala

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Agar Berbicara Bernilai Pahala

Berbicara merupakan karunia Alloh  yang sangat luar biasa kepada para hamba-Nya. Ada sebagian manusia terlahir di dunia ini dalam kondisi bisu dan merindukan bicara walau sepatah kata. Namun bagi banyak orang, berbicara seringkali menjadi sumber petaka karena lisannya tidak... baca selengkapnya

Do’a Memohon Selalu Dalam Kebenaran

18 January , 2015 , Kategori : Blog
Do’a Memohon Selalu Dalam Kebenaran

رَبِّأَدْخِلْنِيمُدْخَلَصِدْقٍوَأَخْرِجْنِيمُخْرَجَصِدْقٍوَاجْعَلْلِيمِنْلَدُنْكَسُلْطَانًانَصِيرًا “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)”. (QS. al-Isra : 80) Dalam ayat ini, Allah -subahanahu wa ta’ala-... baca selengkapnya

Membangun Tradisi Kejujuran

15 January , 2015 , Kategori : Blog
Membangun Tradisi Kejujuran

As-Shidq adalah mengatakan atau melakukan kebenaran. As-Shidq diartikan pula perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan kebenaran. Imam Nawawi -Rahimahullah- mengartikan as-shidq yaitu mengabarkan sesuatu yang sesuai dengan realitanya.Karena itu, as-shidq sering diartikan dengan kejujuran. Kejujuran bisa dibilang adalah harta... baca selengkapnya

  • belanjamahal
    @Ina_Rosma_ariana :Sama-sama. Semoga semua buku yang Anda beli bisa bermanfaat bagi Anda, keluarga serta orang »
  • Ina Rosma Ariana
    Paket bukunya sudah diterima semua,,, terima kasih banyak,,, pelayanannya memuaskan & cepat. Maaf bngt bar »
  • belanjamahal
    @ Andi Muhammad Cakra D... Alhamdulillah.... Semoga Buku & al-Qur'an nya bisa bermanfaat dunia dan Akhirat.... »
  • Andi Muhammad Cakra D.
    Asslamualaikum wr. wb. baru OL susah jaringan di BOMBANA sulawesi tenggara, tp alhamdulillah kiriman buku dan »
  • belanjamahal
    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh... Alhamdulillah.. Kami turut bahagia, semoga alqur'an dan bukuny »

Buku Pilihan

Pilih Kategori

Arsip

Statistik Web

Flag Counter

Trafik

0001879595
  • Hari ini:1138
  • Minggu ini:5806
  • Bulan ini:9166
  • Total1879595
Users Online: 2
Kurma Premium

Produk Herbal